Marhaban Ya Ramadhan

By / 7th May, 2019 / Artikel / No Comments

Alhamdulillah tahun ini kita bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan yang masuk tahun 1440 H / 2019 M. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, bulan dimana segala kebaikan yang banyak terdapat disana dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah [2] : 185

Untuk menentukan 1 Ramadhan 1440 H, Kementrian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat, Minggu (5/5/2019).Ada 2 metode yang dipakai untuk menentukan datangnya 1 Ramadhan 1440 H. Disimpulkan, awal 1 Ramadhan 1440 H jatuh pada hari Senin, 5 Mei 2019 Masehi.

Kemuliaan bulan ramadhan salah satunya adalah dengan hadirnya malam penuh kemuliaan dan keberkahan di salah satu malam pada malam-malam terakhir dan ganjil di bulan ramadhan yaitu malam Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur’an, malam Lailatul Qadar digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kami segenap Keluarga Nilina Entertainment & Nilina Organizer mengucapkan selamat menuaikan ibadah puasa ramadhan 1440 H

Habis Gelap Terbitlah Terang

By / 22nd April, 2019 / Artikel / No Comments

Siapa yang tidak kenal sosok R.A Kartini ? Kartini merupakan wanita yang memperjuangkan emansipasi wanita Indonesia. Untuk menghormati jasanya telah ditetapkan tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini.

Sumber : https://www.romadecade.org/biografi-ra-kartini/#!

Kartini berasal dari keluarga bangsawan, ia adalah anak bupati Jepara kala itu. Ia adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara. Ia mempunyai silsilah keturunan keluarga yang cerdas dimana kakeknya yaitu Pangeran Ario Tjondronegoro IV diangkat menjadi bupati pada usia 25 tahun. Ia mempunyai kakak yang bernama Sosrokartono beliau adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Meskipun berada di rumah, Ia aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda. Sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi. Dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu.

Saat usia 20 tahun ia telah membaca buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt. Tidak hanya itu ia juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

Ketertarikannya dalam membaca kemudian membuat beliau memiliki pengetahuan yang cukup luas soal ilmu pengetahuan dan kebudayaan. R.A Kartini memberi perhatian khusus pada masalah emansipasi wanita pribumi. Selain itu ia juga menaruh perhatian pada masalah sosial yang terjadi menurutnya, seorang wanita perlu memperoleh persamaan, kebebasan, otonomi serta kesetaraan hukum.

Surat-surat yang kartini tulis lebih banyak berupa keluhan-keluhan mengenai kondisi wanita pribumi. Ia menuliskan penderitaan perempuan di jawa seperti harus dipingit. Tidak bebas dalam menuntuk ilmu atau belajar, serta adanya adat yang mengekang kebebasan perempuan. Selain itu, tulisan-tulisan Kartini juga berisi tentang yaitu makna Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, peri kemanusiaan dan juga Nasionalisme.

Cita-cita luhur R.A Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Gagasan-gagasan baru mengenai emansipasi atau persamaan hak wanita pribumi.

Pada tahun 1903 pada saat R.A Kartini berusia sekitar 24 tahun, ia dinikahkan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang bangsawan dan juga bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri.

Dalam pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, R.A Kartini kemudian melahirkan anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904.

Namun miris, beberapa hari kemudian setelah melahirkan anaknya yang pertama, R.A Kartini kemudian wafat pada tanggal 17 September 1904.  Di usianya yang masih sangat muda yaitu 24 tahun. Beliau kemudian dikebumikan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

Berkat perjuangannya kemudian pada tahun 1912, berdirilah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang kemudian meluas ke Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon serta daerah lainnya.

Sekolah tersebut kemudian diberi nama “Sekolah Kartini” untuk menghormati jasa-jasanya. Yayasan tersebut milik keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis di era kolonial Belanda.

Kami Segenap Keluarga Nilina Entertainment & Event Organizer mengucapkan Selamat Hari Kartini

 

Janji Suci Sehidup Semati

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Selamat Menempuh Hidup Baru Mbak Weni dan Mas Bogi.
Semoga menjadi keluarga yang Sakinah,Mawaddah, Warrahmah.
Cepat diberi momongan, rezeki melimpah, dan dilancarkan segala urusan. Amiin

Pernikahan merupakan sebuah hal yang sakral termasuk dalam agama, pernikahan akan membawa banyak keberkahan, dalam ladang  pahala, rezeki, pekerjaan. Dengan menikah, seseorang telah memikul amanah tanggung jawabnya yang paling besar dalam dirinya terhadap keluarga yang akan ia bimbing dan pelihara menuju jalan kebenaran.

Ingin acara pernikahan Anda lebih berkesan ? Ayoo buruan ke Nilina EO.

Berikut Video Pernikahan Mas Bogi dan Mbak Weni :

Tradisi Jawa Tingkeban

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Tingkeban or Babyshower Mas Bima dan Mbak Putri
Semoga diberi kelancaran saat proses melahirkan dan mendapatkan putra/putri yang sehat. Amiin

Adat Jawa memiliki banyak sekali tradisi jawa yang bertahan hingga sekarang, salah satunya adalah mitoni atau acara tujuh bulanan.

Tingkeban merupakan  salah satu tradisi masyarakat jawa, disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang artinya tujuh. Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama kali. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil dimandikan dengan air embang setaman dan disertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.

 

Berikut Video Tingkeban Mas Bima dan Mbak Putri :

Tedak Siten Adik SHERIF

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Acara Piton adek SHERIF
Semoga adek SHERIF menjadi anak yang sholeh, baik, pintar, dan berbakti kepada orang tua serta selalu diberi kesehatan. Amiin

Tedhak Siten yang juga dikenal sebagai ritual Turun Tanah merupakan salah satu adat dan tradisi masyarakat Jawa.

Upacara adat ini sendiri memiliki beberapa tujuan, termasuk diantaranya adalah sebagai bentuk rasa syukur karena sang anak akan mulai belajar berjalan. Selain itu, upacara ini merupakan salah satu upaya memperkenalkan anak kepada alam sekitar dan juga ibu pertiwi. Hal ini juga merupakan perwujudan  dari salah satu pepatah Jawa yang berbunyi “Ibu Pertiwi Bopo Angkoso” (Bumi adalah ibu dan langit adalah Bapak).

Setiap langkah dan aspek dari upacara ini menyimbulkan hal-hal tertentu dalam kehidupan sang anak, dan hal inilah yang membuat upacara ini penuh warna. Tahapan dari upacara tedak siten meliputi:

Langkah ke-1

Pada tahap ini, sang anak akan dituntun oleh sang Ibu untuk berjalan diatas 7 jadah (makanan yang terbuat dari beras ketan yang dicampur dengan garam dan kelapa yang kemudian dikukus, dihaluskan dan dicetak) dengan 7 warna berbeda yaitu putih, merah, hijau, kuning, biru, coklat, dan ungu.

Warna-warna dari jadah tersebut merupakan simbol dari warna-warna kehidupan. Pengaturan jadah tersebut dimulai dari yang berwarna gelap hingga berwarna terang (putih) sebagai simbol bahwa akan ada jalan keluar yang terang dari setiap masalah yang menghadang.

Sementara jumlah 7 mengacu pada bahasa Jawa Pitu yang bermakna pitu atau pertolongan, dimana dalam perjalanan sang anak dalam setiap tahap kehidupannya kelak, semoga selalu mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Langkah ke-2

Sang anak akan dituntun untuk menaiki tangga yang terbuat dari tebu. Pemilihan tebu yang dianggap sebagai singkatan dari antebing kalbu atau mantapnya hati merupakan bentuk harapan agar sang anak memiliki ketetapan hati dalam menjalani setiap tahap kehidupannya kelak, dimana setiap anak tangga yang dilewati merupakan simbol dari tahapan kehidupan.

Langkah ke-3

Anak dituntun untuk berjalan diatas tanah atau tumpukan pasir dimana sang anak akan mengais (ceker-ceker) tanah dengan kedua kakinya. Hal ini merupakan simbol dari harapan agar sang anak saat telah dewasa nanti mampu mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhannya.

Langkah ke-4

Anak dimasukkan dalam kurungan ayam, dimana di dalam kurungan tersebut telah disediakan berbagai benda seperti buku, uang, mainan, makanan dan berbagai benda lainnya. Benda yang dipilih oleh sang anak merupakan gambaran dari potensi anak yang diharapkan akan membantu orang tua untuk bisa mengasah potensi tersebut dengan baik.

Sang anak yang berusia sekitar 8 bulan dipercaya masih memiliki naluri atau insting yang belum tertutupi oleh hal-hal lain, dan pada saat yang sama mereka sudah mampu merespon dunia luar dengan baik. Hal inilah yang membuat sang anak akan memilih benda yang sesuai dengan insting mereka, yang dipercaya sebagai potensi yang ada dalam diri mereka.

Langkah ke-5

Pemberian uang logam yang telah dicampurkan dengan berbagai jenis bunga dan beras kuning oleh sang ayah dan kakek sebagai simbol harapan agar sang anak nantinya memiliki rejeki berlimpah namun tetap bersifat dermawan.

Langkah ke-6

Sang anak dimandikan dengan air yang dicampur dengan kembang setaman sebagai simbol harapan agar sang anak akan membawa nama harum bagi keluarga.

Langkah ke-7

Anak dipakaikan baju yang bagus dan bersih dengan harapan agar anak akan menjalani hidup yang baik nantinya.

 

Berikut Video Tedak Siten Adik SHERIF :

Tedak Siten Adik Nanda Aulia Rahma Waskita

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Upacara Turun Tanah adik Nanda Aulia Rahma Waskita
Semoga adik Nanda Aulia menjadi anak yang sholehah, pintar, dan berbakti pada orang tua, serta selalu diberi kesehatan. Amiin

Tidak Siten atau dikenal dengan sebutan Upacara Turun Tanah, merupakan budaya warisan leluhur masyarakat Jawa untuk bayi yang berusia sekitar tujuh atau delapan bulan.

Upacara tedak siten ini dilakukan sebagai rangkaian acara yang bertujuan agar anak mampu melewati setiap fase kehidupan. Di mulai dengan tuntunan dari kedua orang tuanya hingga ia mulai berdiri sendiri dan memiliki kehidupan mandiri.

Tradisi ini dijalankan saat anak berusia hitungan ke tujuh bulan dari hari kelahirannya dalam hitungan pasaran jawa. Perlu diketahui juga bahwa hitungan satu bulan dalam pasaran jawa berjumlah 36 hari. Jadi bulan ke tujuh kalender Jawa bagi kelahiran si bayi setara dengan kalender bulan ke delapan Masehi.

Bagi para leluhur, adat budaya ini dilaksanakan sebagai penghormatan pada bumi tempat anak memijakkan kakinya ke tanah. Kemudian dalam istilah Jawa disebut Tedak Siten. Selain itu juga diiringi doa-doa dari orang tua dan sesepuh sebagai pengharapan agar kelak anak sukses menjalani kehidupannya.

Berikut Video Tedak Siten Adik Nanda Aulia :

Tedak Siten Adik Abdullah Rafif Putra Fernandy Syah

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Pitonan adek Abdullah Rafif Putra Fernandy Syah
Semoga adek Rafif menjadi anak yang sholeh, selalu berbakti kepada orang tua serta dapat menjadi anak yang bermanfaat bagi nusa,bangsa dan negara. Amiin

Di kalangan masyarakat Jawa, Tedak Siten atau Turun Tanah merupakan peristiwa penting khususnya bagi anak berusia tujuh bulan.

Tedak artinya Turun, dan Siten dari kata Siti yang berarti Tanah. Gambaran anak dalam menjalani kehidupan, tumbuh mandiri mampu menghadapi rintangan. Tedak siten juga berarti kedekatan anak dengan ibu pertiwi atau tanah kelahiran.

Dalam Tedak Siten ada beberapa tahapan, yaitu :

  1. Anak menginjak bubur tujuh warna.
  2. Dituntun menaiki tangga dari tebu
  3. Menuju onggokan pasir
  4. Dimasukkan kurungan ayam berisi beberapa benda
  5. Menyebarkan udik-udik (uang logam yang sudah dicampur dengan berbagai macam bunga)
  6. Dimandikan kembang setaman
  7. Anak didandani dengan pakaian yang bagus dan bersih

Seiring perkembangan zaman, prosesi ini mulai susah dicari. Bukan hanya dikalangan perkotaan, di pedesaan juga tidak jauh berbeda. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, perubahan pola pikir dan kemajuan teknologi menyebabkan prosesi berbau tradisi dan budaya ini mulai ditinggalkan.

Berikut Video Tedak Siten Adik Rafif :

Ulang Tahun Zairika

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Happy Sweet Seventeen kak Zairika 17th. Semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua dan sehat selalu. Amiin

Ulang tahun merupakan peristiwa yang dinanti untuk dirayakan dengan mengadakan pesta ulang tahun dengan keluarga/teman. Apalagi saat memasuki usia 17th pasti akan terasa lebih bahagia. Usia 17 tahun merupakan angka yang dianggap spesial bagi para remaja. Umur dimana para remaja telah dianggap menginjak masa kedewasaan. Di umur 17 ini para remaja juga telah mendapat pengakuan resmi dari Negara dengan mendapat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Surat Ijin Mengemudi (SIM).

Para remaja terutama remaja putri sangat menanti-nantikan datangnya usia 17. Perayaan yang mewah, roti yang menjulang tinggi, dekorasi yang menawan, dan berbagai macam hiburan.

Yuk yang mau ada acara ultah bisa yaa booking kami. Jadikan moment spesialmu makin berkesan dan cettar bareng Nilina EO.
Always Fun & Fresh.

Kami juga memiliki cuplikan videonya :

Peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019

By / 18th April, 2019 / Artikel / No Comments

Jum’at tanggal 15 Maret 2019 pukul 06.50 s.d selesai bertempat di Alun-Alun Berbek Jl. Mayjen Supeno No. 76 Kec. Berbek Kab. Nganjuk telah dilaksanakan karya bakti dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dengan tema “Kelola Sampah Untuk Hidup Bersih Sehat dan Bernilai Menuju Kab. Nganjuk Bebas Sampah”.

Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) merupakan program pemerintah dalam pengelolaan sampah yang dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan aman bagi lingkungan hidup.

Pada saat itu Bupati Kabupaten Nganjuk juga menyampaikan program terbarunya. yaitu :

◊ PROGRAM DESA BEBAS DARI SAMPAH

Dalam upaya membangun kesadaran bersama, dan pelembagaan hidup bersih dan sehat produktif dalam pengelolaan sampah, maka telah ditetapkan salah satu desa di Kabupaten Nganjuk menjadi Desa Bebas Dari Sampah yaitu Desa Pakuncen, Kec. Patianrowo. Disamping itu Desa Pakuncen ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi desa-desa lain di Kabupaten Nganjuk dan Provinsi Jawa Timur dalam pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir.

◊ PENGELOLAAN LIMBAH B3 MELALUI BUMD (PDAU)

Merupakan salah satu kebijakan unggulan utama Bupati Nganjuk dalam pengelolaan sampah atau limbah B3 (bahan beracun berbahaya) melalui penetapan unit usaha baru BUMD PDAU yang bergerak di bidang Jasa Pengelolaan Limbah B3, dengan tujuan agar limbah B3 dapat dikelola dengan baik sekaligus Kebijakan Peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

◊ BAJAK PAPAH (Bayar Pajak Pakai Sampah )

Adalah merupakan kebijakan Bupati Nganjuk dalam rangka pemanfaatan sampah agar berguna bagi masyarakat dan memiliki nilai ekonomis serta dalam rangka membantu keluarga dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak kepada negara, yang dilaksanakan melalui mekanisme kerjasama dengan kader. Kebersihan dalam lembaga BSI (Bank Sampah Induk).

◊ SAMPAH MENJADI EMAS BATANGAN

Telah dilakukan kerjasama antara konsumen/pelanggan TPST (Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu) dengan PT. PEGADAIAN CABANG NGANJUK, dimana sampah yang dikelola oleh TPST ditukar dengan TABUNGAN EMAS BATANGAN, sehingga sampah bukan menjadi “masalah”, tetapi sampah menjadi “Berkah”.

 

Berikut Video kegiatan HPSN :